Best of Times

Things we want to remember, we forget. Things we want to forget, we remember.

Memori itu memang aneh. Kadang kita cenderung melupakan hal yang perlu kita ingat (seperti remote, handphone, kunci mobil :P), tapi pada hal-hal yang kita ingin lupakan, kita malah terus mengingatnya. Tema inilah yang diangkat dalam Best of Times, film Thailand besutan Yongyoot Thongkongtoon tahun 2009 ini.

Keng, adalah seorang dokter hewan yang tidak pernah bisa melupakan cinta pertamanya saat masih sekolah. Ialah Fai, cinta pertama Keng yang malah menikah dengan Ohm, sahabat Keng. Selama bertahun-tahun, Keng memendam perasaannya. Hingga saat keduanya sudah dewasa, mereka bertemu kembali. Fai kini sudah berpisah dengan Ohm dan tidak ingat siapa Keng. Sementara Keng merahasiakan masa lalunya dan berharap bisa memulainya dari awal. Namun ternyata, Fai sendiri tidak bisa melupakan cinta pertamanya, yaitu Ohm, dan masih berharap kelak dia bisa kembali dengannya.

Benang kusut ini ditambah dengan cerita lain. Sompit dan Jamrus, adalah sepasang manula yang bertemu di kelas komputer khusus untuk orang-orang tua – di mana Keng mengajar -. Mengapa Keng mengajar kelas komputer harus Anda cari sendiri dengan menontonnya😛. Jamrus rela menyetir 6 jam setiap minggunya hanya untuk berada di kelas bersama Sompit. Menurutnya, itulah pengorbanan yang harus ia lakukan demi cintanya. Namun, anak-anak dari Sompit tidak setuju bila ibunya yang sudah tua menikah lagi. Apalagi, mereka berencana untuk pindah ke Amerika Serikat.

Best of Times berhasil menceritakan semuanya dengan tenang, tidak terburu-buru dalam setiap masalahnya. Tidak perlu juga untuk membuat segalanya terkesan murahan. Semua mengalir bagaimana seharusnya, kadang juga diiringi dengan komedi, kadang. Menontonnya film ini benar-benar menghubungkan kita terhadap realita, bagaimana seorang berkorban, bagaimana cinta terasa pahit, dan kadang manis.

Saya sangat suka sekali dengan penggambaran karakter Jamrus, yang sebenarnya memiliki sense of humor tinggi sekali, tapi di satu sisi dapat menjadi sangat romantis sekali dan perhatian. Lalu juga, karakter Fai yang sangat baik, dan bagaimana terlihat dia sangat mengharapkan Ohm kembali, tapi di sisi lain ingin segera move on pada orang lain.

Cerita ini seharusnya menonjolkan kisah Keng dan Fai, namun saya akui bahwa kisah Sompit dan Jamrus benar-benar mencuri spotlight. Dan memang sampai akhir, kisah mereka terkesan lebih penting.

Memang tidak luar biasa film ini, tapi tidak bisa dikatakan jelek juga. Film ini benar-benar sebuah penggambaran bagaimana orang-orang menghadapi kisah cinta mereka tanpa harus berakhir selalu bahagia. Sebuah drama yang berhasil menenangkan hati sambil membuat kita tersenyum padanya.

7/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: