Hormones

Jika Inggris punya Love Actually, Thailand memiliki Hormones.

Amerika? Banyak sekali film setipe darinya, Valentine’s Day, He’s Just Not That Into You, atau yang terbaru New Year’s Eve. Sayangnya, nasib film-film Amerika itu tidak sebaik Love Actually (yang disebut-sebut sebagai salah satu film romantic-comedy yang pernah ada). Bagi yang sama sekali belum pernah menonton film-film di atas pasti bingung, setipe apanya sih? Well, begini, tipe yang saya maksud adalah di mana dalam satu cerita terdapat banyak pecahan-pecahan cerita. Banyak karakter yang menyebabkan terjadinya sub-plot, namun disajikan dengan cara dicampur (tidak dipisah-pisah). Kadang, karakter-karakternya ada yang berhubungan satu sama lain, kadang -seperti Hormones- tidak.¬†Sutradara¬†Songyos Sugmakanan jelas-jelas mengakui bahwa dirinya terpengaruh oleh Love Actually, bisa dilihat di mana DVD Love Actually sendiri dapat “peran” di film ini. Bukti lain adalah pengakuan langsung dari Sugmakanan. Oke, cukup bahasan tentang Love Actually.

Hormones, terdiri dari 4 cerita cinta yang bisa dibilang mewakili majoritas kisah cinta. Cerita pertama berkisah tentang Pu dan Mai. Dua sahabat sekolah yang diidolai sampai senior-seniornya karena memiliki wajah yang tampan. Dari awal sudah dilihatkan bagaimana mereka berdua sangat kompak. Sampai akhirnya muncul Nana, teman masa kecil mereka yang dulunya gendut dan sekarang sudah menjelma menjadi cantik. Memang dasar sehati, mereka berdua pun suka dengan Nana dan bertaruh bahwa siapa yang mendapatkan nomor handphone Nana adalah pemenangnya. Tetapi mereka tidak tahu, bahwa Nana sudah mengetahui semua rencana mereka.

Cerita kedua berkisah tentang Oh Lek, seorang perempuan yang tergila-gila dengan artis Taiwan Didi. Sangat mudah sekali menemukan hal seperti ini di kisah nyata bukan? Sangking tergila-gilanya, Oh Lek sampai rela belajar bahasa China hanya untuk bisa mengerti lebih dalam arti lagu Didi. Namun, impiannya untuk bertemu Didi di konser gagal setelah konsernya sendiri dibatalkan. Lalu bagaimana nasib Oh Lek selanjutnya??

Cerita ketiga bercerita tentang Jo, nerd yang jatuh hati pada C, cewek paling populer di sekolahnya. Jo memperlihatkan ketulusan cintanya dengan banyak cara, bahkan setelah C menolaknya mentah-mentah pun, Jo mampu meyakinkan kita bahwa true love exists. Menurut saya ini adalah cerita terpahit dalam film ini.

Cerita terakhir adalah yang paling “dewasa”. Hern (dimainkan oleh pemeran pria Hello Stranger) sudah 3 tahun menjalin hubungan dengan Nual. Saat dalam perjalanan menemui Nual yang bekerja di beda kota, Hern bertemu dengan Aoi (diperankan oleh bintang porno Jepang, Sora Aoi) di kereta. Sialnya, antar Hern dan Aoi sama-sama langsung suka. Bisakah Hern menjaga kesetiaannya terhadap Nual??

Perpindahan antar cerita terjadi sangat mulus dan pas. Sehingga semua cerita mencapai klimaksnya pada saat bersamaan. Tempo sedikit turun menjelang akhir saat kita menyadari bahwa semua cerita siap “dibungkus”. Seperti halnya kehidupan nyata, tidak semuanya bisa berakhir bahagia, atau malah tidak semuanya harus berakhir. Secara keseluruhan, Hormones berhasil menyajikan cerita yang “klise” namun dikemas dengan tidak tipikal. Diiringi dengan lagu-lagu pop Thailand dan sentilan komedi secara berkala, film ini mendapatkan tempatnya khusus di tiap hati penontonnya.

It’s not Thai’s rom-com at best, but it’s definitely worth a watch

7.5/10

One comment

  1. dwi gazya susanti

    ka mau dong link download hormones,suckseed and the billionaire..plis plis..belum nonton soalnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: