Real Steel

If you get one shot, make it real.

Di masa depan, tinju manusia sudah punah. Penonton menginginkan pertunjukkan yang lebih brutal lagi, dan rasanya tidak manusiawi jika manusia menjadi korbannya. Maka dari itu, tinju robot pun dimulai. Menjanjikan pertarungan yang jauh lebih keras, brutal, dan tidak ada batas, “olahraga” ini pun menjadi populer. Imbasnya, petinju manusia pun kehilangan pekerjaannya. Tak terkecuali Charlie Kenton, yang kini harus banting setir menjadi ke dunia tinju robot. Namun, nasib Charlie di dunia barunya tidak terlalu baik. Robotnya kalah di sana-sini, hutang di mana-mana, sungguh berantkan hidupnya. Belom lagi, di awal cerita, Charlie harus menanggung hak asuh anaknya yang sudah lama ia tinggalkan karena mantan istrinya meninggal secara mendadak. Tapi, di sinilah titik balik kehidupan Charlie. Berawal dari penemuan robot tua oleh anaknya – yang bernama atom -, Charlie memulai lagi semuanya dari bawah. Mengikuti pertarungan di kebun binatang, melawan robot-robot kecil, semuanya dilalui bersama anaknya. Atom dilatih hingga siap mengikuti liga tinju robot professional.

Sekilas, cerita yang ditawarkan oleh Real Steel mirip sekali dengan perjuangan Sylvester Stallone di Rocky. Tapi tentunya, kali ini Rocky digambarkan sebagai baja berukuran 2 meter lebih. Beberapa orang juga menghubungkannya dengan film Transformers karena sama-sama bercerita tentang robot. Menurut saya, film ini berhasil menunjukkan karakteristikanya sendiri. Memang sedikit mirip dengan jalan cerita Rocky, tapi bila dibandingkan dengan Transformers, jauh sekali. Di sini, segala robot dan spesial efek hanya berfungsi sebagai pelapis saja, sedangkan inti dari ceritanya sendiri adalah hubungan seorang bapak dan anak. Penonton diperlihatkan bagaimana buruknya hubungan mereka pada awal, dan bagaimana, secara perlahan-lahan, hubungan itu membaik. Menurut saya, inilah yang sama sekali tidak dimiliki Tranformers, jalan cerita.

Tapi, walaupun hanya sebagai pelapis, visual efek yang dimiliki oleh Real Steel bukan berarti kelas dua. Semua robot terlihat asli dan nyata. Pertarungannya sendiri membuat saya seperti sedang menonton pertandingan tinju asli. Didukung dengan akting meyakinkan dari Hugh Jackman dan ditambah pula oleh koreografi tinju yang diawasi oleh Sugar Ray langsung, semua adegan tinju di film ini harus diacungi jempol. Bisa dibilang, walaupun skalanya lebih kecil, tapi aksi haku bantam di Real Steel melampaui apa yang ada di Transformers.

Secara keseluruhan Real Steel seolah ingin memberi sinyal kuat *poke transformers* bahwa visual efek di dalam sebuah film seharusnya hanya bertugas sebagai penguat jalan cerita saja, jangan sampai terjadi hal yang sebaliknya.

8/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: