In Time

Tomorrow is a luxury you can’t afford.

Waktu adalah uang. Sebuah kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga. Tapi bagaimana bila kalimat tersebut menjadi kenyataan? Itulah yang menjadi tema dari film terbaru Andrew Niccol, In Time. Bersetting pada masa depan, rekayasa genetik telah menyebabkan manusia berhenti menua pada umur 25 tahun. Setelahnya, akan muncul semacam jam di tangan mereka yang menunjukkan sisa umur mereka. Namun, di masa depan, waktu juga menjadi mata uang. Sehingga manusia akan melakukan transaksi melalui sisa umur mereka yang tertulis di tangan mereka. Untuk mendapatkan waktu sendiri, mereka harus bekerja. Dengan begitu, yang kaya dapat hidup selamanya, sedangkan yang miskin harus berjuang hari demi hari untuk tetap hidup. Premis yang sangat menarik bukan?

Film ini sendiri berfokus pada kisah Will Salas, seorang pemuda yang tinggal di daerah kaum miskin, di mana setiap warganya berjuang untuk tetap bisa hidup setiap harinya. Suatu hari, Will bertemu dengan  Henry Hamilton, yang ternyata adalah seorang pria yang sangat kaya. Ia memiliki umur hingga satu abad. Singkat cerita, Henry sudah bosan hidup dan memberikan sisa umurnya pada Will. Will yang terbiasa memiliki sisa umur sedikit pun kaget dan sadar bahwa sistem waktu sebagai mata uang dan lain-lainnya ini salah. Maka, ia pun pindah ke New Greenwich, daerah di mana setiap orang memiliki sisa umur yang sangat banyak, atau dalam arti lain, kaya raya. Dari sana cerita Will dimulai, bagaimana ia ingin merubah sistem yang salah. Perjuangannya melawan orang-orang kaya yang egois, dan bagaimana dirinya menjadi tersangka kematian Henry.

Ada yang bilang, ide brilian mahal harganya. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa ide baik tanpa eksekusi yang baik adalah percuma. Ada benarnya juga kalimat kedua. Dengan premis yang sangat baik sekali tentang dunia di mana waktu menjadi mata uang dan segalanya, In Time berjalan mulus saat memulai ceritanya. Tapi sayangnya, konflik yang dibangun tidak cukup penting dan terkesan ece-ece. Padahal cerita seperti ini bisa dibuat gila seperti Inception atau Source Code. Tapi ujungnya, In Time berakhir seperti film action umumnya. Kejar-kejaran, berantem, dan sebagainya. Hey, padahal film ini memiliki latar belakang brilian. Maka, semua persoalan tentang waktu pun terkesan hanya seperti pembuka jalan pada konflik saja. Belum lagi Justin Timberlake yang tidak meyakinkan sebagai pahlawan. Menurut saya, ia lebih seperti playboy dan cowok ugal-ugalan daripada menjadi cowok tangguh dan pemberani. Chemistry dengan Amanda Seyfried pun tidak believable. Untuk jajaran cast, menurut saya hanya Cillian Murphy saja yang diatas rata-rata. Sayang ceritanya berakhir konyol untuk dirinya.

Menurut saya, In Time sangat memerlukan sebuah reboot. Dengan premis yang sama, cerita yang jauh lebih baik, dan pemilihan cast yang lebih tepat, menurut saya bukan tidak mungkin In Time menjadi salah satu film bersejarah.

6/10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: