The Vow

“I vow to fiercely love you in all your forms, now and forever”

Salah satu strategi dalam dunia perfilman adalah waktu rilis. Contohnya, film superhero yang dirilis saat liburan, supaya anak-anak kecil dapat menontonnya. Atau, film natal yang keluar saat akhir Desember. The Vow benar-benar tahu bagaimana memanfaatkan momen Valentine. Dirilis menjelang 14 Februari, drama romantis ini sukses merajai box office di minggu pertamanya dengan pemasukan melebihi 40 juta dollar. Sebuah hasil yang luar biasa bagi film cinta-cintaan. Meskipun dari segi kritik bisa dibilang kurang bagus, tapi sinopsisnya sudah cukup menarik saya untuk menontonnya, apalagi dengan embel-embel “Inspired by a true story“.

Cerita yang dianut The Vow sebenarnya sudah dipakai berkali-kali. Bahkan, saya rasa sinetron Indonesia pun sudah pernah menggunakannya. Berkisah tentang pasangan suami istri, Leo (Channing Tatum) dan Paige (Rachel McAdams), yang harus mendapat ujian berat di pertengahan jalan. Pada suatu malam yang bersalju, mereka berdua mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan Paige kehilangan ingatannya. Tidak semuanya, hanya bagian di mana Leo mulai masuk di dalam kehidupannya. Yang Paige ingat, ia masih bertunangan dengan Jeremy dan sama sekali tidak mengenal pria bernama Leo. Ouch! Selanjutnya, kita disuguhkan dengan usaha Leo membuat istrinya jatuh cinta lagi kepadanya. Ditambah dengan bumbu-bumbu permasalah Paige dengan keluarganya dan tentunya, tidak senorak drama Punjabi di TV nasional.

Sekilas memang terkesan seperti 50 First Dates tanpa unsur komedi. Memang seperti itu, tapi di sini kita disuguhkan cerita yang lebih mudah untuk dipercaya ketimbang melihat Adam Sandler mengemis-ngemis kepada Drew Barrymore. Pada beberapa titik, film ini mudah sekali menyentuh para penontonnya. Bayangkan saja, bila istri yang Anda sayangi tiba-tiba lupa Anda. Apalagi akting dari Channing Tatum dan Rachel McAdams sangat meyakinkan dari awal hingga akhir. Saya yakin, pasti banyak perempuan yang menangis karena menonton film ini. Walau begitu, saya nggak bisa bilang ini adalah salah satu cerita cinta terbaik. Karena, seharusnya dengan premis dan pembawaan yang baik, film ini bisa selesai dengan lebih baik lagi. Saya merasa sedikit gantung pada bagian penyelesaiannya. Meskipun, ya memang film ini kan ngikutin kejadian nyatanya. Tapi, itu justru menyebabkan film ini kehilangan klimaksnya, berjalan datar dari awal hingga akhir. Saya kira ada sesuatu yang bakal terjadi, ternyata selesai begitu saja.

Voice-over Channing Tatum cukup mengganggu, bahkan tidak ada satu kalimat yang nyantol dari narasinya itu. Tempo film yang berjalan sangat lambat mungkin akan membosankan bagi beberapa orang, tapi menurut saya, itu justru membawa penonton lebih mudah mencerna dan merasakan apa yang dirasakan oleh Leo. Saya rasa, selain hal-hal di atas, film ini berjalan dengan baik.

Satu saran saya, kalau nonton film ini jangan sendirian. Mendingan sama cewek deh. *gak penting abis deh ini*

7.5/10

3 comments

  1. kalimat terakhir lo gak penting abis bro! huahuahahaa😀
    nice review loh.

  2. pele

    Gak penting abis ya??? hahaha

    I luv Rachel😀

  3. Pingback: Novi filmovi koje preporučam pogledati (KINO, DVD) od 28. lipnja do 04. srpnja 2012. godine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: