The Raid

1 Ruthless Crime Lord, 20 Elite Cops, 30 Floors of Hell

The Raid/ The Raid: Redemption/ Serbuan Maut adalah film Indonesia pertama yang berhasil mendapatkan hak peredaran di seluruh dunia (well, almost). Gareth Evans dengan anak emasnya, Iko Uwais, kembali setelah sukses dengan Merantau, hanya saja kali ini, ia memutuskan untuk all out. Dengan tim yang hampir sama dengan Merantau, Evans sempat mengirim 5 adegannya sebelum filmnya sendiri selesai ke Cannes Festival. Tapi apa daya, The Raid tidak berhasil tembus. Tapi dari situlah, cerita ini dimulai. Karena salah satu pihak Sony Pictures Classic melihatnya dan terkesima. Setelah itu, semua kejadian berikutnya seperti kisah fairytale. The Raid dipuji-puji di berbagai festival besar, dari Sundance, SXSW, TIFF, atau yang lokal seperti INAFF. Kabar bahwa akan segera datang remake versi hollywood dan Mike Shinoda mengisi ulang score hanya kian memperkeras tabuh genderang bahwa inilah saatnya film Indonesia berbicara.

Sebenarnya, The Raid sendiri adalah projek cadangan dari Evans. Setelah Merantau rilis, Evans merasa kewajibannya untuk memperkenalkan adat istiadat Indonesia beserta silatnya sudah selesai. Kali ini, ia tinggal membuat film actionnya saja, tanpa perlu perkenalan lagi. Berandal, yang seharusnya menjadi film selanjutnya justru gagal direalisasikan karena membutuhkan dana yang sangat besar (3 juta dollar). Akhirnya, Evans memutuskan untuk mengeluarkan The Raid terlebih dahulu, sekaligus mengumpulkan dana untuk Berandal. The Raid pun rilis, dengan dana hanya sekitar 1,1 juta dollar siapa yang menyangka film ini bisa meledak dan menimbulkan hype sebesar ini.

Ahhh… berbicara soal hype, saya sendiri termasuk korbannya. Menunggu film ini benar-benar dari jauh hari (saat trailernya sendiri belum rilis), saya gagal menontonnya di INAFF. Hanya bisa melihat berbagai trailer, footage, dan behind the scene justru menambah candu saya. Maka, ketika 23 Maret akhirnya datang juga. Saya hanya bisa merinding dan tidak percaya, ini film Indonesia.

Premis The Raid memang simple seperti yang selalu saya baca di semua review dalam masa penantian. Segerombolan polisi melakukan penyerbuan diam-diam ke gedung yang merupakan sarang dari penjahat-penjahat berbahaya. Setelah sampai di lantai 5, polisi itulah yang balik diserbu. Agar bisa selamat, segala cara mereka lakukan untuk mendapatkan bosnya yang berada di lantai atas.

Percayalah, ceritanya memang simple dan dalam 10 menit akan terlupakan. Adalah sangat susah untuk fokus pada ceritanya ketika koreografi pertarungannya benar-benar tidak pakai otak. Cantik, itulah bagaimana saya menggambarkannya. Mereka seperti tidak kehabisan cara untuk mematahkan tulang, menghilangkan nyawa, atau sekedar merobek isi paha saja. Sadis dan penuh darah tentu saja. Toh film ini R-rated. Dan kalau menurut Anda Merantau sudah hebat, kalikan dengan 20… tunggu, 50 kali maksud saya. Apakah trailernya sangat keren bagi Anda? kalikan dengan 20. Anda tidak akan pernah cukup dengan pertarungannya. Iko Uwais, Yayan Ruhian, Joe Taslim, Donny Alamsyah semuanya hebat. Dengan pembangunan tensi yang baik dari awal hingga akhir, this movie defines action movies.

Cerita dan pengembangan karakter memang selalu menjadi prioritas kedua dalam film action. The Raid pun begitu. Meski ceritanya simple, tapi bagi saya itu sudah cukup, apalagi dengan twist-twist yang datang beruntun seperti tonjokkan Iko ke samsaknya di awal film. Otak saya seperti tidak siap untuk menerimanya di saat bersamaan menerima pertarungan silat vs. judo dari Yayan dan Joe.

Begitu juga dengan karakternya. Semuanya hitam putih dari awal. Kita tahu, Tama (Ray Sahetapy) memang sadis, tidak bermoral, dan psycho. Sedangkan, Rama (Iko) adalah versi putih dari Ray. Untuk akting saya harus acungi jempol untuk Ray Sahetapy. Untuk segala urusan mimik dan ekspresi, beliau adalah juaranya. Diikuti oleh Joe Taslim, atlet nasional judo ini lebih mampu berakting dibanding Iko yang baru keliatan ekspresi nafsunya ketika berkelahi saja. Yayan, tetap pada tanpa ekspresinya. Biarlah tangan dan kakinya yang berbicara.

Skrip yang dikerjakan oleh Evans sendiri tidak mengandung banyak dialog. Mungkin kalau ditotal hanya sekitar 10-15 menit dan didominasi dengan one-liner dan isi kebun binatang. Sangat disayangkan, keseringan aktor terlalu cepat dalam mengucapkan bagiannya. Ditambah pula kebakuannya yang bagi beberapa orang terlalu kaku. Ketika diubah menjadi bahasa Inggris tentunya akan bagus, mungkin inilah salah satu alasan kenapa filmnya sendiri mendapat apresiasi bagus dari luar.

Untuk peredaran Indonesia sendiri, scoringnya menggunakan versi asli buatan Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi. It’s not bad, tapi saya sudah menonton 3 adegan dengan scoring Mike Shinoda, dan harus saya akui versi Shinoda lebih dapat membangun tensi. Semoga di rilis DVD dan Blu-Raynya versi Shinoda bisa menemani versi Fajar dan Aria.

The Raid adalah film Indonesia paling menghibur dan sulit untuk tidak mengatakannya sebagai salah satu film terbaik Indonesia. Sekarang, “BERSENANG-SENANGLAH!”

9/10

10 comments

  1. Yach score-nya bukan yg Mike Shinoda? Intens nggak nich? Soal-nya di trailer2 nya score gak terlalu intens.

    • janitra

      Kurang bro. Mike Shinoda lebih hebat bangun tensinya. Tapi gak bisa dibilang jelek kok scorenya, udah cukup.

  2. AAAAAAAAAAAHHHHHHH SAYA SUKAAAA DENGAN REVIEWNYAAA.
    kasih 4 jempol ya ya ? mau kan ? hahahahahaaaaa.

    saya nonton dengan teman-teman cewek aja, ampe lemesss saking pas adegan berantemnya kita tegang dan you know-lah, ampe kita brenti napas. kelar adegan, baru tarik napas dalem-dalem lagi. fiuuuhhh…
    beneran deh. KEREN BANGET.

    *ga tau mesti ngomong apa lagi*

  3. yayan

    ane kemaren dah nonton gaaaaaaaaan tanggal 26😀 MANTAP !!! Biasanya ane lo nonton pilem horor-mesum tuh g ada penontonya biasanya gan mentok2 20 orang
    wuih the raid fulll gan g ada kursi sisa emang ajib nih pilem !!!!

  4. jay

    ini baru yang namanya film action

  5. ebii

    konsep film yg sangat cerdas

  6. ibank

    filmnya asik sih …..tapi jaluur ceritanya kemana aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: