Modus Anomali

We Love You, John

Hingga sekarang saya masih percaya beberapa film memang lebih seru bila kita tidak tahu sama sekali tentangnya. Modus Anomali termasuk dalam golongan itu. Jadi, kecuali Anda sudah menontonnya/tidak peduli/suka sama saya maka jangan melanjutkan bacaan Anda lebih dari kalimat ini. Meski begitu, saya masih cukup baik untuk membagi dua review ini, bagian pertama yang bebas spoiler dan bagian kedua yang berisi spoiler. Enjoy!

Modus Anomali bisa dikatakan sebagai salah satu thriller teringan Joko Anwar. Belum dibuat filmnya, skripnya sudah berhasil meraih penghargaan. Apa yang terjadi selanjutnya bisa disebut sebagai adik dari The Raid, hype. Saat ditayangkan di SXSW berdampingan dengan The Raid, nasibnya tidak seberuntung kakaknya. Mixed review, bahkan hingga filmnya sudah tayang umum pun pendapat masih relatif terpecah dua dibanding The Raid yang bersuara padu.

Saya sendiri termasuk pada golongan yang kurang suka. Harus diakui Modus Anomali berada jauh di atas rata-rata kualitas film Indonesia. Film ini memang tidak biasa, tapi juga tidak spektakuler. Mengingat hype yang ditawarkan cukup besar, Modus Anomali kurang mampu membayar itu semua. Temponya yang sedikit lambat cukup membuat penonton bosan, apalagi yang sudah tau ceritanya, berapapun sedikit kadarnya.

Bila The Raid menggembar-gemborkan action, Modus Anomali lebih nyaring terdengar menawarkan twist di ceritanya. Maka dari permulaan, itu pulalah yang saya cari. Dari awal saya berusaha tidak dibodohi Joko Anwar dan menebak apa maunya. Karena pikiran memang sudah terfokus ke sana – dan dengan sedikit keburuntungan – twistnya pun tertebak dan datang secara tidak mengejutkan. Saya sendiri beranggapan beberapa film lainnya pernah menawarkan sesuatu yang lebih dari ini. Tapi kembali lagi, ini film Indonesia, ini adalah suatu pencapaian bagi dunia perfilman kita.

Untuk semua itu, saya berikan Modus Anomali 7/10

—————————— Sekarang saatnya kita berspoiler ria! ——————————

Modus Anomali dibuka dengan karakter Rio Dewanto yang mendapati dirinya terkubur di dalam hutan. Setelah berputar-putar dan mendapat beberapa clue, ia tahu bahwa istrinya telah dibunuh, kedua anaknya masih berkeliaran di luar, dan ada satu pembunuh yang masih mengejarnya. 30 menit selanjutnya, kita ditawarkan adegan Rio berlari-lari di hutan.

Sayangnya, film ini mengingatkan pada beberapa film serupa yang akhirnya membuat pikiran penonton mengerucut pada satu teori. Pasti ada sesuatu dengan Rio. Lalu beberapa teori konspirasi akan terbuat, dan bukan tidak mungkin itulah jawaban akhirnya. Apalagi, clue-clue yang mengarah pada twist ditawarkan cukup gamblang beberapa kali. Hanya membutuhkan penonton yang cermat untuk menebaknya. Jelas bukan film yang bisa Anda tonton santai-santai, karena Anda akan melewatkan beberapa  hal penting di sini.

Sayangnya, meskipun teori Anda salah ataupun tidak sanggup untuk menebaknya, Joko Anwar masih cukup baik untuk menjelaskan semuanya untuk kita. Ending yang cukup lama dan hingga melibatkan Marsha Timothy dan Surya Saputra terlalu menjelaskan semuanya dan sedikit merusak kesenangan penonton yang tebakannya benar. Andai saja film berakhir pada saat karakter Rio Dewanto memukul Surya Saputra menggunakan stik baseball untuk pertama kalinya, Modus Anomali akan jauh lebih mindfuck.

Dari segi akting Rio Dewanto terbukti mumpuni dan berhasil membawa karakternya berjalan dengan baik. Pada 15 menit awal mungkin terasa kurang believable. Rio terlihat cukup tenang untuk seorang pria yang keluarganya dibantai dan nyasar di hutan. Tapi itu semua mulai terbayar seiring berjalannya film. Dan ketika ending mulai terbuka, di situlah akting Rio mencapai puncaknya. Bagaimana ekspresi psikopatnya ditampilkan mengingatkan saya pada karakter penjahat di Funny Games.

Banyak juga yang mengeluhkan soal dialog berbahasa Inggris pada film ini. Saya sendiri tidak terlalu bermasalah dengan itu, Rio cukup baik dalam berbicara, kedua anaknya justru jauh lebih buruk dari Rio. Lagipula Anda ujungnya juga bakal baca subtitlenya, kan?

Satu hal lainnya yang harus diacungi jempol adalah teknik pengambilan kamera dan departemen audionya. Juara! Itulah kata yang menggambarkan bagaimana teknik pengambilan adegan Rio berlari di hutan terlihat begitu nyata. Gambarnya yang tajam dan warna yang cerah membuatnya tidak terasa seperti film thriller lainnya. Soundnya? Beberapa kali saya sempat mengira itu adalah bunyi handphone orang di studio ketimbang suara weker jam di film. Ya, sebagus itulah.

—————————— akhir spoiler ——————————

2 comments

  1. helmyhananto

    Rio Dewanto sejak film “?” & Arisan udh terbukti kemampuan akting nya yg luar biasa.

  2. Hmmm, thriller suspense yach? Mantap, semoga kedepannya film kita makin bervariasi genre-nya n yg gw mau sich Action Sci-Fi…

    Hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: