The Avengers

Avengers, Assemble!

It’s here! It’s here! It’s fucking here! We have waited it for so long and now it’s here, and it’s big.

Mari saya buka review ini dengan mengatakan bahwa menonton The Avengers adalah salah satu pengalaman menonton bioskop terbaik dalam hidup saya. Penantian bertahun-tahun sejak Nick Fury mengatakan kepada Iron Man, “You think you’re the only one?” dan puluhan tahun sejak komik Avengers pertama keluar, terbayar, lunas!

Sejak didirikan, bukan kebetulan bahwa hak karakter Iron Man, Hulk, Thor, dan Captain America ada pada Marvel Studios. The Avengers juga bukan kebetulan, ini adalah proyek superior nan jangka panjang dengan 5 film sebagai pendahulunya. Seperti layaknya hidangan makan malam, Avengers adalah menu utamanya.

Selama 2 jam lebih kita ditawarkan sebuah role model summer movies. Semua elemen penting hiburan ada di sini. Mungkin Avengers bukan film superhero terbaik yang pernah dibuat, tapi jelas ia adalah film superhero paling menghibur yang pernah ada. Bagaimana komedi dan action bergantian mengambil peran membuat tiap detik film ini begitu berharga untuk dilewatkan.

Bagi Anda yang baru keluar dari goa, The Avengers adalah salah satu perkumpulan superhero yang ada pada dunia Marvel. Di sana, kita mengenal Fantastic Four, X-Men, dan Avengers. Pada versi filmnya, The Avengers berisi Iron Man, Hulk, Thor, Captain America, Black Widow, dan Hawkeye. Bila Anda sudah pernah menonton kelima film pendahulunya, maka Anda akan lebih dari akrab pada karakter-karakter ini.

Berani lo sama kita?

Apa lo liat-liat?

Lalu apa yang mengharuskan mereka bergabung? Jawabannya ada pada Loki, adik dari Thor. Setelah tidak berhasil menguasai Asgard, tempat tinggalnya, Loki berpindah haluan untuk menguasai bumi. Setelah membuat janji dengan karakter yang tidak bisa saya sebutkan, Loki hanya perlu memberikan Tesseract sebagai ganti dari bumi yang boleh ia miliki. Dengan bala bantuan dari ras alien Chitauri, dunia menghadapi ancaman terbesarnya. Pada saat inilah Avengers bersinar.

Tentunya mengumpulkan ego sebanyak itu dalam satu ruangan tidaklah mudah. Pada 1 jam lebih awal film, kita tahu bahwa mereka semua merasa yang paling hebat. Friksi terjadi sana-sini membuat cerita lebih mudah untuk ditelaah dan dihubungkan pada penonton. Tapi semua itu disampaikan dengan cara yang menghibur penuh tawa dengan sekali-kali memberi adegan sesama Avengers bertarung.

Ceritanya mungkin tidak perlu untuk menjadi kompleks dan memperumit dirinya sendiri, ia cukup menjadi dasar bagi semua elemen lain Avengers berpijak. Satu hal yang saya sukai adalah, bagaimana Josh Whedon berhasil membagi porsi tiap superhero secara pas. Kita tidak akan merasakan porsi Iron Man terlalu dominan sebagai contohnya. Lalu, ketika semua hal terasa mulai serius kita diberikan punchline yang sukses membuat penonton tertawa. Bergilirannya kadar komedi dan action diberikan adalah rahasia mengapa film ini begitu menghibur.

Terlepas dari banyaknya kostum berwarna-warni pada layar, setiap pemeran di dalamnya tidak kalah cemerlang. The Avengers benar-benar sebuah all-star movie, Robert Downey Jr. kembali “gila” dengan karakter Tony Stark/Iron Man, Mark Ruffalo sebagai pendatang baru yang tampil jauh di atas ekspektasi sebagai Bruce Banner/Hulk, Chris Hemsworth yang berhasil membawa kharismanya sebagai Thor, dan Chris Evans yang tampil penuh wibawa sebagai Steve Rogers/Captain America, sampai-sampai kita lupa bahwa satu dekade yang lalu ia bermain di “Not Another Teen Movie”. Sebagai icing on top, ada Scarlett Johansson untuk pemanisnya yang diduetkan dengan Jeremy Renner yang karirnya makin menanjak. Samuel L. Jackson, walaupun sering mendapatkan line yang terlalu cliche, tampil cukup bersama kedua agent SHIELD lainnya.

Dari sudut lain, Tom Hiddleston sebagai super-villain Loki tampil dengan menakjubkan. Tidak sampai pada taraf Joker-nya Heath Ledger, tapi saya yakin Tom tidak jauh dari buntutnya. Setiap adegan di mana ia berada, Tom mencuri perhatian dan berhasil menandingi keroyokan akting protagonis-protagonisnya.

Dari segi technical, visual effect dari The Avengers benar-benar memanjakan mata. 30 menit pertarungan terakhir adalah alasan terbesar mengapa budget-nya sampai tembus 220 juta dollar. Hellicarier sebagai markas SHIELD tampil sangat menakjubkan. Interpretasi Hulk yang bisa dibilang terbaik dari yang pernah ada. You could literally see Mark Ruffalo’s face in it. Iron Man’s Mark 7? Benar-benar keren. Kostum Captain America yang terlihat sedikit aneh di foto-foto pun terlihat normal dalam final. You really couldn’t ask for more.

Saya sendiri sudah menontonnya dua kali, baik 3D maupun 2D reguler (bukan digital, masih menggunakan celluoid). The Avengers memang tidak di-shoot menggunakan kamera khusus seperti Avatar atau The Dark Knight Rises, jadi 3D-nya pun bisa dikatakan secukupnya. Beberapa adegan memang menampilkan kedalaman yang berbeda. Tapi saya merasa cukup pusing dan tidak terlalu berpengaruh banyak dalam kenikmatan (malah cenderung mengurangi). Sedangkan saat menontonnya lewat 2D reguler, gambar sudah mulai mendapatkan scratch sana-sini, namun jauh lebih nyaman dalam menontonnya. Saran saya, usahakan untuk menontonnya pada bioskop yang memiliki studio-studio besar, ambil 2D digital. Bila ingin menontonnya dalam 3D, cobalah IMAX 3D yang kualitasnya jauh lebih superior.

The Avengers bukan tanpa cela, Anda mungkin akan bertanya tentang mengapa ini dan itu terjadi, atau “kok bisa begini”. Tapi Anda tidak akan terlalu peduli, karena sisi positif dari film ini terlalu banyak hingga menutupi kekurangannya. Anda terlalu menikmati hiburan yang diberikan, dan after all, it’s a superhero movie. Jadi hal-hal seperti itu bisa dengan mudah diabaikan.

The Avengers is by far the best movie of the year, it’s 9.5/10 for me.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Fuck! Make it, 10/10

Don’t leave the theater early, an extra scene is waiting for you.

7 comments

  1. Wkwkwwkk…. Mantap bro!!! mank Joss is Boss!!!!

    haha…😀

  2. kostum kapten america aja yang kuno… hehehehe

  3. aku belum sempet nonton. hiks. *____*

  4. Kencana

    Saya suka Avenger. Tokoh heronya gak semua ‘suci’. Mereka punya masalah, konflik dan kepentingan sendiri-sendiri.

  5. gue baru kelar nonton dan baca review lo bang. SETUJU DAH! kita emang setipe dan satu selera *eh😀

  6. gw kurang setuju gan bagusnya cuma di 30 menit terakhir, gw kasi nilai 7 jauh lebih bagus the dark night
    gak tahu kurang enak aja secara keseluruhan mungkin penyutradaranya kali ye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: