The Amazing Spider-Man

The untold story begins.

Apa yang membuat sebuah film superhero bagus? Mengikuti komiknya? Atau justru menyimpang jauh dari komiknya? Rupanya 2 hal tersebut sudah membuktikan, bahwa faktor komik tidak berpengaruh besar. Karena mayoritas penonton film sendiri rupanya tidak membaca komik. Marvel Studios, dengan universenya (Marvel Cinematic Universe), telah membuktikan bahwa dengan mengikuti hampir semua hal-hal di komik dapat membuat film superhero laris manis, The Avengers. Namun DC dengan Warner Bros punya prinsip lain, bahwa film superhero harus lebih realistis dan manusiawi, bahkan sampai menyimpang dari komiknya (meski tidak jauh-jauh sekali), dan hanya mengambil intisarinya saja, The Dark Knight. Lalu di manakah The Amazing Spider-Man berada?

Beberapa tahun yang lalu, Marvel Comics berada pada ambang kebangkrutan. Saat itu karakter superhero yang kita kenal mungkin  hanyalah Superman-Batman, yang sebenarnya juga terkenal karena ada filmnya. Marvel pun menjual hak beberapa superheronya kepada studio-studio film seperti Sony dan FOX. Sony saat itu membeli hak film dari Spider-Man dan Ghost Rider, dan karakter-karakter yang terkait erat. Sedangkan Fox membeli Fantastic Four dan X-Men. Siapa sangka, film Spider-Man dan X-Men laku keras. Memulai sebuah trend baru film superhero pasca tahun 2000. Dari situlah, karakter-karakter superhero Marvel mulai dikenal. Seiring dengan kembali Marvel dari mati surinya, mereka mendirikan Marvel Studios, yang akhirnya kita kenal lewat dunia “Avengers”-nya.

Saya yakin Anda sudah pernah menonton Spider-Man (2002) arahan Sam Raimi. Bahkan bila Anda baru berumur 10 tahun sekarang, setidaknya sudah pernah menontonnya di TV nasional. Franchise Spider-Man adalah mesin ATM bagi Sony, maka ketika Spider-Man 3  akhirnya menjadi seri terakhir dari Raimi, Sony tidak akan tinggal diam. Diakui me-reboot bisa jadi bukanlah pilihan favorit, nyatanya Sony memilih untuk melakukannya, ketimbang melanjutkan cerita Peter Parker versi Tobey Maguire. Apakah langkah tersebut baik? Menurut saya, iya.

Amazing Spider-Man menciptakan satu arah berbeda lagi dalam film superhero. Ketika The Avengers adalah film superhero hura-hura, ledakan sana-sini, ketawa sana-sini dan The Dark Knight adalah berkerut sana-sini, TASM memilih untuk menyelam pada pendalaman karakter dan interaksinya. Tidak salah rasanya bila mengatakan, The Amazing Spider-Man adalah film superhero yang memiliki hati paling besar di antara yang lainnya.

Cerita TASM pada dasarnya adalah permak dari Spider-Man (2002). Namun kali ini, kita lebih dahulu mengetahui cerita Peter Parker (Andrew Garfiled)  sejak ia ditinggalkan orang tuanya. Peter yang dari kecil sudah tinggal dengan paman dan bibinya ternyata memendam luka dari dahulu. Dan ketika akhirnya Uncle Ben meninggal (dengan cara yang hampir persis dengan film spidey pertama), sesuatu di dalam diri Peter tersentuh. Ini bukan sekedar cerita seorang remaja tergigit laba-laba, tapi lebih mengapa seseorang remaja mau berbuat kebaikan. Bahkan lebih adil rasanya bila film ini berjudul Peter Parker, ketimbang Spider-Man, karena film ini tentang Peter Parker, lahir dan batin.

Tidak heran bila membutuhkan satu jam untuk akhirnya melihat Peter Parker menjadi manusia laba-laba. Karena kita ingin dibuat lebih peduli pada sosok dibalik Spider-Man, ketimbang Spider-Mannya sendiri. Seperti menonton Tsubatsa 2 dengan Tsubatsa 1, di mana di versi keduanya, walaupun menceritakan hal yang sama namun lebih detail.

Selain pilihan untuk me-reboot ceritanya, Sony juga diragukan dalam hal memilih sutradara dan aktor-aktornya. But, therefore you should know, Andrew Garfield was born to be Spidey. Andai saja semua penonton otaknya tidak lebih dahulu dicuci oleh Tobey Maguire, maka image Spider-Man akan tetap setia pada komiknya. Garfield berhasil membawakan Spider-Man versi komik ke layar lebar. Sarcasm dan witty khas spidey hingga postur badan yang jauh lebih mirip adalah hal terbaik film ini. Satu kekurangan dari Spider-Man versi Garfield mungkin adalah betapa seringnya ia melepas topeng. Padahal Spider-Man adalah salah satu karakter yang paling menjaga rahasianya. But that’s not Garfield’s fault anyway

Lalu kita juga memiliki Emma Stone, the newest it girl. Kali ini love interest Peter Parker juga dikembalikan ke asalnya, yaitu Gwen Stacy. Mungkin banyak yang bertanya, ke mana Mary Jane pergi. Sebenarnya, di komik asli Spider-Man, Gwen Stacy adalah first love Peter. Hingga kemudia sesuatu hal terjadi (sebuah spoiler, karena kemungkinan ini yang akan terjadi di sekuelnya), dan Mary Jane masuk ke dalam kehidupan percintaan Peter. Chemistry Garfield-Stone disebut-sebut sangat baik pada film ini, walaupun saya menganggapnya sedikit hiperbola, namun untuk ukuran film superhero, ini adalah chemistry terbaik sejak… hmm.. Clark-Lois atau Maguire-Dunst? Terlihat sekali Garfield menginginkan lawan mainnya, sedangkan Emma Stone.. is being Emma Stone, effortlessly beautiful. Setidaknya apa yang ditawarkan Garfield-Stone tidak terlihat artifisial, baik onscreen maupun offscreen (yes, mereka bener2 pacaran sekarang).

Marc Webb (500 Days of Summer) tahu betul itu semualah yang dibutuhkan film Spider-Man. Sebuah drama dan tentunya mengembalikan asal-muasal cerita Spider-Man yang sudah kalang kabut di tangan Raimi. Webb juga awalnya diragukan untuk menangani proyek sebesar TASM, apalagi filmnya baru 500 DOS (yang mana saya suka sekali). Namun, segi action film ini yang awalnya sangat-sangat-sangat diragukan, berhasil ditangani dengan baik. Meskipun seperti terbantai dengan porsi dramanya. Tempo ketika actionnya mulai keluar pun seperti keteteran. Pada saat bagian drama, Webb berhasil membawakannya dengan halus tanpa cela, tapi saat spidey keluar, kita seperti berada pada treadmill yang dipercepat. Komedinya tetap ada, namun kurang porsinya dari spidey-spidey sebelumnya. Overall, tone yang ditawarkan cukup gelap. Nolan-esque? Maybe, tapi tidak sekelam The Dark Knight. Dan bagian bagian terbaiknya? Webb benar-benar menciptakan universe Spider-Man yang sangat luas, menyiap benih-benih yang semuanya bisa dipakai untuk sekuelnya. Good job!

Membuat final fight adalah bagian tricky dalam film sejenis superhero. Karena final fight haruslah cukup panjang, namun tidak boleh sepanjang Transformers 2. Dan juga tidak hanya berisi perlawanan baik dan jahat. Harus adalah beberapa cooldown moment, namun juga tidak boleh terkesan dilama-lamakan. Final fight yang menurut saya gagal adalah di Iron Man 1 & 2. Di mana terasa terlalu cepat dan instan. Yeah, we all know the hero will win, but not that easy. Final fight terbaik ada pada The Avengers, dan walaupun TASM tidak sehebat itu, tapi ada setidaknya 4 kali spidey bertemu dengan musuhnya, Lizard. Dan semuanya disuguhkan dengan baik.

Lizard! Musuh spidey kali ini. Bila saja Spider-Man 4 dibuat, adalah Lizard yang menjadi villainnya. Sayangnya, proyek itu tidak berhasil direalisasikan dan berakhir menjadi The Amazing Spider-Man ini. Rhys Ifans selaku Dr. Curt Connors bermain cukup baik, setidaknya lebih baik dari portrayal Dr. Curt Connors sebelumnya.

Beberapa aktor yang saya rasa kurang ada pada Dr. Ratha yang diperankan oleh orang India dan juga Aunt May yang sangat susah sekali image-nya dilepaskan dari pemeran sebelumnya di trilogi Spider-Man Raimi, berbanding terbalik dengan Uncle Ben yang jauh lebih kuat dan baik chemistry-nya dengan Peter. Tapi, mereka masih memiliki sekuel-sekuel selanjutnya untuk membuktikan kapasitas dan kepentingan karakter mereka.

About the 3D, saya cukup beruntung untuk menontonnya di IMAX. TASM menggunakan kamera RED Epic 3D camera, jadi 3D film ini bukanlah conversion seperti The Avengers. Dan hasilnya sangat-sangat memuaskan. 3D-nya tidak memusingkan dan tidak gelap. Hanya saja, sangat disayangkan porsi actionnya yang kurang dibanding dengan dramanya, sehingga 3D-nya pun ya jarang-jarang.

Sulit untuk tidak membandingkannya dengan Spider-Man terdahulu. Apalagi untuk mencapnya sebagi film Spider-Man terbaik. Namun, bila harus dibandingkan dengan Spider-Man pertama (adil, kan?), TASM unggul hampir dari semua aspek. Dan kekurangan maupun keluhan yang sering Anda dengar, kebanyakan dikarenakan ini adalah versi reboot dan orang-orang sudah terlanjut terikat dengan versi Spidey sebelumnya. But, ini barulah awal baru. TASM sudah dipastikan memiliki sekuelnya pada tahun 2014. And who knows? Ketika trilogi ini sudah komplit, Anda mungkin akan menemukan rendisi terbaik dari Spider-Man.

So, instead of thinking it as another Spider-Man movie, consider it as the other Spidey movie with better story.

(9/10)

7 comments

  1. Maguire-Dunst: No.
    Clark-Lois: What???
    Garfield-Stone: Yes yes yes!!! lol

    oh ya, Revenge of The Fallen favorit gw lho, sampe sekarang susah banget dapet yg kaya gitu lagi, apalagi gara2 si Dark of The Moon yg culun itu… pfffft… haha…

    • hahaha, makanya gue kasih tanda tanya, karena sebenernya gue sendiri gabisa nemuin chemistry yang bagus di film superhero (ya secara demen nonton film romantis sih ya hahaha)

      Serius Revenge of the fallen??? TF 1 itu udah paling baguslah, yang kedua final fightnya over banget. Nonton pertama kali okelah, tapi untuk ntn 2x dan seterus gak kebayang deh..

  2. gue malah termasuk yg lebih suka versi Tobey ketimbang Garfield. sorry, di mata gue akting Andrew pas2an, emosinya, dendamnya, atau rasa bersalahnya kurang muncul waktu paman Ben tewas. di luar itu, Marc Webb tampaknya terlalu ngepop, dengan gaya yg sepertinya sangat ingin menuruti selera penonton yg penginnya semuanya berakhir menyenangkan.
    emma stone was stunning, itu setuju. jauh lebih baik daripada kirsten dunst.
    my final verdict, better action, worse story #peace😀

  3. yoi Jan, nice review! Tapi gw setuju sama arya. Pas kemaren nonton ulang Spiderman 1, malah overall menurut gw TASM hampir kalah disemua aspek.. haha

    Greetz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: