The Dark Knight Rises

When Gotham is ashes, you have my permission to die.

Review di bawah ini mengandung spoiler ringan. Dianjurkan untuk tidak membacanya sebelum menonton. Untuk melihat kesimpulan akhir, langsung scroll ke bawah garis merah.

Saya kurang tahu kenapa, tapi ada sesuatu antara film superhero dengan trilogi. Seakan-akan, semua franchise superhero harus terhenti di seri ketiganya. Apa yang terjadi selanjutnya adalah antara prekuel atau reboot. Karya Nolan bukanlah pengecualian, walaupun apapun yang terjadi masih mungkin terjadi, The Dark Knight Rises adalah penutup dari trilogi Batman milik Nolan. Uniknya, seringkali, seri ketiga memiliki kualitas jauh di bawah predecessor-nya (ambil contoh trilogi Spider-Man, X-Men, atau Blade) mengakibatkan kenangan pahit lebih mudah diingat ketimbang manis yang telah dihasilkan. Saya cukup lega bahwa The Dark Knight Rises (TDKR) tidak menderita sindrom serupa, bahkan TDKR adalah kado termanis yang bisa Nolan berikan untuk penutup trilogi superhero terbaik sepanjang masa ini.

4 tahun sudah berlalu sejak rilisnya The Dark Knight, film yang merubah semua standard film superhero. Thanks to Heath Ledger’s posthumous oscar winning performance, harapan untuk sekuelnya melambung tinggi. Nolan yang awalnya memasukkan Heath sebagai bagian dari rencananya untuk film ketiga harus mengulang lagi dari awal, saat kematian menyambut aktor muda berbakat tersebut. Nolan sempat tidak ingin melanjutkan ceritanya, tapi ketika akhirnya ia mendapatkan skrip yang menurutnya setara dengan TDK,  jadilah TDKR ini.

TDKR mengambil waktu 8 tahun setelah kejadian di TDK. Batman (Christian Bale) menanggung semua kesalahan milik Harvey Dent, kini ia menjadi incaran para polisi satu kota. Gotham pun sedang berada dalam masa tenangnya, Batman yang berada dalam pelarian dan sedang tidak dibutuhkan memilih untuk bersembunyi. Bersamanya, dibawa pula Bruce Wayne, yang ikut menghilang selama 8 tahun. Namun kehadiran Bane (Tom Hardy) ke Gotham membuat semuanya berubah. Batman harus kembali, atau setidaknya itu yang Jim Gordon  (Gary Oldman) inginkan. Batman pun akhirnya kembali keluar, tapi ternyata semuanya tidak semudah itu. Apalagi Bane benar-benar menguji Bruce Wayne baik dari mental maupun fisiknya. Ditambah bumbu karakter baru seperti John Blake (Joseph Gordon-Levitt), Selina Kyle/Catwoman (Anne Hathaway), Miranda Tate (Marion Cotillard) dan beberapa lainnya, The Dark Knight Rises adalah film superhero dengan tingkat kompleksitas cerita paling tinggi dibanding film sejenisnya.

Rumit tidak selamanya baik, malah bisa menjadi boomerang. Saya harus setuju, The Dark Knight Rises sedikit over-plotted, walaupun pada akhirnya semuanya berperan penting, tapi hal itu sebenarnya bisa dikurangi. Selain over-plotted, TDKR juga memiliki terlalu banyak karakter baru. Namun hal ini masih bisa dimaafkan, mengingat jangka waktu 8 tahun pasti membuat banyak karakter baru penting muncul. Hampir sejam pertama, TDKR berusaha memperkenalkan satu-persatu orang-orang barunya sambil membangun sub-plotnya yang sebenarnya berujung pada cerita klasik superhero: Penjahat ingin menghancurkan, pahlawan ingin menyelamatkan. Selama 165 menit kisah tersebut dibawakan dengan cara yang berbeda, menarik, dan brilliant!

Berbicara soal bagian  akting, tidak ada satupun yang berhasil menyentuh Heath Ledger, tetapi saya sangat suka sekali dengan Bane versi Tom Hardy. Memang tidak berbadan sebesar di komiknya, tapi sangat bisa sekali dirasakan aura keperkasaan, mencekam dan keseramannya. Apalagi bila sudah berduel dengan Batman. Benar-benar lawan yang sepadan. Dan akhirnya ada juga pertarungan yang lumayan di seri Dark Knight ini. Christian Bale sendiri sebagai Batman relatif tampil lebih baik dari seri-seri sebelumnya, namun cenderung tertutup oleh cast sampingannya. Sedangkan Anne Hathaway sebagai Selina Kyle (tidak pernah disebut Catwoman selama di film) juga tampil meyakinkan tanpa harus merusak versi Michelle Pfeifer. Namun sebenarnya yang tampil terbaik menurut saya adalah Joseph Gordon-Levitt. Image galau di 500 DOS maupun 50/50 benar-benar hilang. JGL tampil sangat berbeda dan tangguh sekali di sini. Bila harus mencari kelemahan adalah Marion Cotillard yang karaternya benar-benar underdeveloped sekali dan sayangnya memegang peran penting pada ending cerita. Sedangkan karakter macam Foley dan Daggett benar-benar hanya berfungsi sebagai pemulus cerita saja tanpa meninggalkan kesan apapun. Berbanding terbalik dengan karakter-karakter kecil di The Dark Knight yang masih lebih memorable.

Dari segi teknis, The Dark Knight Rises adalah yang terbaik dari kakak-kakaknya. Dengan budget lebih besar, lebih banyak ledakan dan aksi-aksi di luar nalar. Seperti opening scenenya yang di-shoot di langit. Itu benar-benar gila. Belum lagi final fight yang benar-benar chaos dan seperti film perang. Tambahkan juga pesawat baru Batman, The Bat, yang bisa bermanuver sesuka hati. Dengan 50 menit film ini di-shoot menggunakan kamera IMAX, maka menontonnya di IMAX pun adalah kewajiban jika memungkinkan. Saya sendiri beruntung bisa menyaksikannya di IMAX, dan benar-benar gila. Scoring Hans Zimmer yang semua sepertinya berjudul “EPIC” mampu menggetarkan kursi studio berkali-kali. Beberapa kekurangan dari segi teknisnya mungkin adalah suara Bane yang masih kurang jelas dan terdengar seperti di-dubbing. Cukup mengganggu. Juga tempo film ini yang berubah-rubah. Pada awal film terasa sekali editing yang kasar dan lompat-lompat. Namun semua itu terbayar penuh di paruh kedua filmnya.

Pada akhirnya, The Dark Knight Rises adalah sebuah film penutup yang pas. Tidak lebih baik dari The Dark Knight, namun berhasil memberikan momen-momen di mana Anda akan merinding, ingin menangis, ingin lompat, dan lain-lainnya. Audiens di studio saya sampai bertepuk tangan 3x sepanjang film. Dan endingnya, oh, it’s the best you can have.

________________________________________________________________________

Nolan’s latest film isn’t a grand masterpiece. But it’s big, powerful, touching, & loud. A true proper conclusion for the trilogy. (9.5/10)

6 comments

  1. ini nontonnya di Gancit IMAX jem 12.45 ya bro?

  2. zakiy

    Setuju deh sama kamu

  3. yunezaa

    akhirnyaaaaaa baca review ini jugaaaa! hahahaa.

    awal nonton ada yg berasa ‘kurang’, yup ternyata emang editingnya rada kasar ya. tapi memang terbayar semua setelah menyaksikan film ini ampe kelar dan aku ampe nahan pipis. hahahahaha😀

    setuju banget ama yg abang tulis di paragraf terakhir. aku merinding waktu scene bom meledak dan hancurin setengah stadion (dan msh byk adegan lainnya), pengen nangis waktu Alfred berdebat ama Wayne yg akhirnya dia bilang “goodbye Alfred..” dan scene terakhir pas di depan nisan Bruce Wayne. pengen lompat waktu liat Wayne berusaha keluar dr penjara.

    sekian celotehan saya. suka ama reviewmu bang :)) hehehe

  4. yunezaa

    oiya setuju juga ama 9,5/10-nya. hihihih.
    ini film penutup paling maniisssss yang pernah saya tonton. hihihihi🙂

  5. andre

    akhir nya dapet juga review yang pas di hati. setuju deh. trus nolan emang paling jago deh bikin ending film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: