Premium Rush

Fixed gear. No brakes. Can’t stop.

Di parallel universe, Joseph Gordon-Levitt tidak membunuh orang dari masa depan dan berakhir menjadi Bruce Willis. Di sini, JGL bekerja sebagai kurir sepeda yang terlalu banyak menonton Fast & Furious. Ditambah fakta bahwa dirinya memang seorang hipster kelas atas, sepedanya tentu saja menggunakan fixed gear, atau lebih dikenal dengan fixie.

Tidak terlalu banyak hal yang bisa di-explore dari cerita Premium Rush. Seorang kurir sepeda yang suatu hari mengantarkan barang penting. Seketika, dirinya menjadi incaran banyak pihak, termasuk oleh seorang polisi jahat yang diperankan oleh Michael Shannon. Dengan alur penceritaan maju-mundur yang berfungsi membuat film ini sedikit lebih berbobot, Premium Rush sebenarnya tidak punya banyak hal untuk ditawarkan dibalik jubahnya.

Tentu saja pertama ada JGL, aktor yang tahun ini naik daun tiba-tiba seperti Ryan Gosling di tahun 2011. Faktor JGL ini sendiri sudah cukup untuk menarik orang ke bioskop, terlepas dia akan mengendarai sepeda atau delman. Tapi tentu pembuat film ini tidak mau ambil resiko dengan menggunakan delman, sehingga jatuhlah pilihan kepada sepeda, yang demamnya cukup tinggi awal tahun, dan sayangnya sudah mulai turun saat film ini rilis. Dan sepertinya, film ini memang hanya mau berfokus pada sepedanya saja, tanpa peduli plot. Mirip dengan franchise Fast & Furious di seri-seri awalnya.

Tapi setidaknya Fast & Furious masih cukup memberikan adrenalin kita “rush” seperti judul film ini. Sedangkan Premium Rush sendiri serasa seperti berada dalam dosis kecil. Bagi saya, semua actionnya sangat nanggung. Hal ini dimungkinkan karena sepeda tidak akan mencapai kecepatan mobil. Selain itu, dari cara pengeditannya yang kurang cepat, tidak membantu dalam penambahan tempo actionnya. Dan ketika akhirnya trick-trick sepeda itu keluar, seringkali kita mendapatkan slow-motion dan efek komputer yang terlalu terasa. Oke, setidaknya ada 1 scene action yang saya sukai, tapi tetap saja jauh dari ekspektasi saya saat pertama kali melihat trailernya.

Lalu kita datang pada departemen actingnya. JGL seperti biasa, ya begitu saja. Saya sudah terlalu “akrab” dengan aktor ini hingga kehabisan kata untuk mendeskripsikan aktingnya. Lalu, ada Michael Shannon sebagai antagonisnya. Entah kenapa, karakternya mengingatkan saya dengan Petualangan Sherina. Di mana penjahatnya adalah seorang idiot dengan otot. Di sini tidak separah itu, tapi entah kenapa terlepas dari mimik psikopatnya, Shannon tidak terasa seperti ancaman yang berarti.

Bagaimana film ini berakhir juga salah satu hal yang saya benci, bagaimana film ini dibangun dengan banyak adegan kejar-kejaran sepeda, dan diakhiri begitu saja. Anti-klimaks. Tapi, mungkin, bagi Anda yang memang gemar sekali dengan sepeda akan mendapatkan mimpi basah Anda. Bagi saya sendiri, Premium Rush adalah Fast & Furious dengan dosis kecil. Saya sudah tidak mempan.

(7/10)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: