Dredd

Judgment Is Coming.

Mungkin beberapa dari Anda pernah menonton Judge Dredd, film keluaran tahun 1995 yang beraktorkan Sylvester Stallone. Ya, kita berbicara tentang Dredd yang sama. Dredd (2012) adalah sebuah reboot dari versi terdahulunya yang gagal sana-sini. Tidak hanya dari segi box office dan kritik, namun Judge Dredd versi 1995 juga jauh menyimpang dari sumber aslinya, yaitu komik. Judge Dredd dinilai terlalu sering membuka helmnya. Adanya hubungan cinta antar judge juga kian menyesatkan. Dengan semangat meluruskan semua hal, keluarlah film ini, dengan nama lebih singkat dan tanpa basa-basi. Sama seperti isinya.

Dredd bersetting di sebuah kota di masa depan, Mega City One. Di sini, satu-satunya keadilan yang ada adalah “Judges”. Sebuah korps yang berfungsi sebagai polisi, hakim, dan juga eksekutor. Dredd adalah salah satu Judge senior yang dingin, tangguh, dan juga jujur. Setelah scene pengejaran sebagai menu pembuka, Dredd diharuskan mengevaluasi seorang Judge junior bernama Anderson. Ketika sedang mengurusi kematian 3 orang yang dilempar dari gedung tinggi, ternyata mereka berada dalam masalah yang lebih besar. Mereka berada di dalam sarang dari Ma-Ma. Seorang bandar narkoba yang telah menguasai satu gedung tersebut. Dalam sesaat, mereka berdua dikunci dalam gedung tersebut dan satu-satunya jalan keluar adalah menemukan Ma-Ma dan membunuhnya. Namun, tentu itu tidak mudah.

Baik, sebelum Anda mengeluarkan opini bodoh berisi “Mirip banget sama The Raid”, Anda harus tahu bahwa proses produksi film ini sudah selesai 3 bulan sebelum The Raid mulai syuting. Mungkin memang sial dari film ini yang tidak menyadari keadaan The Raid yang tiba-tiba meledak. Sayangnya, film ini ternyata jauh lebih mirip dengan The Raid dari yang saya perkirakan. Selain dari premis penyergapan yang sama, beberapa adegan, setting, hingga scoringnya terlalu mengingatkan saya dengan The Raid. Sehingga membandingkannya The Raid sudah tidak terelakkan lagi.

Di sini lagilah Dredd merugi. The Raid dengan segala martial arts-nya jauh lebih intens dan mampu menarik perhatian penontonnya (terlepas dari dialognya yang kaku). Sedangkan action Dredd sebatas tembak-tembakan pistol yang menurut saya tidak mampu membuat jantung berdetak lebih kencang dari pertarungan tangan kosong. Pun begitu, action scene Dredd tidak dapat dibilang jelek. Dengan pola yang juga mirip dengan The Raid (action-tarik nafas-action-tarik nafas), kualitas action Dredd berada di atas rata-rata.

Karl Urban, sebagai orang dibalik helm Dredd tampil sangat baik meskipun hanya memperlihatkan mulutnya saja sepanjang 90 menit film ini. Gerakan badannya yang kaku, intonasinya yang dingin, benar-benar membanting habis Sylvester Stallone. Lalu ada Olivia Thirlby sebagai Judge Anderson yang juga tampil memukau dan sangat mudah dicintai. Walaupun tetap tangguh, tapi ia mampu hadir sebagai penyeimbang kedinginan Dredd.

Satu lagi hal yang cukup dominan di film ini adalah level kesadisan dan disturbing-nya. Cipratan darah, manusia yang dikuliti, hingga bagian tubuh yang pecah bertebaran banyak sekali. Belum lagi kata-kata kotor yang memenuhi film ini dari awal sampai akhir. Dan beberapa adegan yang cukup menyerempet dengan sex. Penonton sangat diharuskan untuk berumur minimal 18+ tahun untuk menonton film ini. Bayangkanlah film yang berisi kesadisan The Raid dan kevulgaran Ted, ya seperti itulah Dredd.

Walaupun tidak sebesar film blockbuster lainnya tahun ini, Dredd sudah bisa menghapuskan mimpi buruk versi 1995-nya.

(8/10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: