5 cm.

“Gantungkan mimpi 5 cm di depan kening kamu…”

*review di bawah mengandung spoiler ringan*

Bila ditanya apa film adaptasi novel Indonesia favorit saya sampai saat ini, maka jawabannya adalah “Jomblo”. Bahkan serbuan Perahu Kertas masih berakhir mengecewakan dan bisa dikatakan buruk. Ketika giliran 5 cm. untuk diangkat ke layar lebar, tentu saja saya cukup mengantisipasinya. Ditambah dari trailer dan hype-nya yang cukup menjanjikan, saya masuk studio dengan ekspektasi besar. Tapi sekali lagi saya kecewa.

Bagi yang belum tahu, 5 cm. bercerita tentang persahabatan 5 orang (4 cowok 1 cewek). Mereka yang sudah berteman selama 10 tahun memutusukan untuk rehat selama 3 bulan, tidak saling berkomunikasi antar sesama, dan mengejar impiannya masing-masing. Setelah 3 bulan, mereka akan bertemu lagi dalam sebuah “petualangan yang tidak pernah terlupakan”. Oke, petualangannya sendiri adalah mendaki Gunung Semeru, hingga ke puncak tertingginya Mahameru.

Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, tapi saya yakin kualitasnya lebih baik dari adaptasi filmnya. Saya juga kurang mengerti apa yang salah dalam proses adaptasi tersebut, karena filmnya sendiri memiliki banyak ruang untuk serius tapi disia-siakan untuk bercanda. Malah ketika di bagian (yang seharusnya) serius terasa dipercepat.

5 cm.

Struktur film 5 cm. yang terbagi menjadi 3 bagian – 1. Perkenalan dengan 5 sahabat 2. Perpisahan mereka selama tiga bulan 3. Pertemuan kembali mereka – terasa berantakan dan labil. Bagian terakhir yang seharusnya menjadi climax malah terasa seperti film yang berbeda. Awalan yang bernuansa santai tiba-tiba berubah menjadi serius dan over-nasionalis di bagian akhir. Seperti ada proses-proses perubahan karakter di buku yang hilang. Yang tersisa cuman satu: pretensius.

Banyak juga bagian-bagian yang tidak bisa saya proses secara logis. Kenapa mereka semua mau mendaki gunung padahal tidak ada yang siap (secara fisik, mental, dan logistik. Hell, bahkan tidak ada yang tahu mereka akan mendaki gunung sampai tiba di lokasi), adegan Saykoji harus mengejar kereta karena telat datang (kenapa nggak ada yang nelpon sebelumnya?),  dan sampai yang paling konyol adalah ketika salah satu dari mereka hampir mati, tidak terlontar satu pun pertanyaan “Kita balik aja, yuk?”. Saya sampai ragu ini sebenarnya bertema persahabatan yang kuat atau misi membunuh sahabat diam-diam. Dan jangan dilupakan, “pidato” mereka ketika berada di puncak Mahameru itu lebih konyol dari Aburizal Bakrie mencalonkan diri sebagai presiden.

Untungnya, 5 cm. di dalam durasi 2 jamnya yang berlebihan, memiliki humor yang cukup kena, sinematografi yang keren, Herjunot yang tampil sebagai pemain terbaik dan berkarakter paling kuat, dan tentunya Pevita Pearce dan Raline Shah yang menarik. Endingnya sendiri yang cukup “asik” mampu memaniskan rasa akhir film ini, walaupun secara kesuluruhan, 5 cm. hanyalah adaptasi buruk yang dibungkus dengan mewah.

Rating

4 comments

  1. 17cm

    coba baca novelnya deh…nanti bakal ketauan kenapa filmnya bisa jelek begini. karena di novelnya pun udah busuk ceritanya. persahabatan, cinta, nasionalisme, mimpi, semuanya kualitas murahan. belom lagi spamming lirik lagu + quote orang2 terkenal. jujur, novelnya jadi salah satu buku terjelek yang pernah saya baca. dan lebih anehnya lagi kok ya bisa2nya jadi best seller. abis selesai baca ga rela kayanya ngeluarin 58rb buat beli tuh novel.
    menurut saya, yang udah baca novelnya, film ini justru sedikit lebih baik dibanding novelnya

  2. Heum sebetulnya…diluar kekurangannya film 5 cm, saya masih tetap saluuuut dengan perjuangan mereka untuk dapat mengantarkan kita ke atas mahameru..terlepas dari kekurangan sang sutradara…saya salut sama pemainnya…..Kalau di bukunya masih nyambung kenapa ada nasionalisme…sayangnya di film tidak disajikan….

  3. aku sih pernah beli novel 5cm
    beli tuh novel gara2 ada lomba bikin komik tentang novel ini.
    kalo menurut aku, novel 5cm kurang bagus isinya. (jangan marah ya yg suka nih komik)

    ya nggak tau ya, membaca novel ini berulang kali tapi soulnya aku kok kaya ga bisa masuk mengikuti alur ceritanya dengan baik. bahasanya kaya terlalu dibuat2 dan gak apa adanya anak gaul.

    abis baca 2 bab udah gak tak terusin bacanya sampe abis.
    ya nasib tuh novel udah tak buang. heran aja kok novel ini bisa sampe difilmkan
    padahal kalo menurut gua nih komik terkenal bukan karena bagusnya
    tapi cuman karena metode marketingnya aja yang sak abrek dan buanyak banget trik marketingnya
    dari even lomba ini dan itu (lomba komik, kaos, dll)
    ya ini sekilas pendapat aja, masing2 orang kan boleh berpendapat toh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: